BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Paru paru
merupakan salah satu bagian penting pada saluran pernafasan pada makhluk hidup.
Saluran pernapasan berfungsi sabagai saluran udara yang masuk menuju paru paru dan
keluar dari paru paru. Paru paru sabagai tempat pertukaran udara pernafasan
yaitu oksigen (O2) dan karbondioksida
(CO2).
Paru paru
dibungkus oleh selaput paru paru yang disebut pleura. Paru paru tersusun atas berjuta juta alveolus yang memiliki
fungsi penting dalam pertukaran gas pernafasan. Paru paru terletak dirongga
dada tepat diatas diafragma.
Fungsi sistem
pernafasan pada manusia dapat mengalami gangguan atau serangan penyakit, antara
lain asma, TBC, macam macam peradangan, asfiksi, asidosis, difteri,
pneumoconiosis dll. Dalam karya tulis ilmiah ini penulis akan membahas tentang
Pneumoconiosis. (Heru Nurcahyo. 2008. 83 dan 93).
Pneumoconiosis adalah penyakit paru kronis karena
menghirup partikel debu organik, khususya ditempat kerja industri dan
merupakan penyakit paru kerja untuk
jangka waktu yang lama. Yang merupakan penyakit terkait kerja, yang terkait
terutama untuk yang terkena zat berbahaya.
Menurut WHO
ukuran debu partikel yang membahayakan dan dapat menyebabkan penyakit
Pneumoconiosis adalah berukuran 0,1- 5 atau 10 mikron. Menurut WHO penyakit
pernapasan dari akut sampai dengan kronis telah menyeran 400-500 jiwa di negara
berkembang. Menurut DEPKES ukuran debu yang membahayakan dan dapat menimbulkan
penyakit Pneumoconiosis adalah berkisar 0,1 sampai 10 mikron. (http://eprints.undip.ac.id/18220/1/SITI
YULAEKAH).
Menurut Kota Madya Pneumoconiosis adalah penyakit
yang terparah karena sifatnya yang progresif, artinya bila pajanan dihentikan
maka penyakit ini akan terus berlajut). Menurut data yang penulis dapatkan dari
Rumah Sakit Bhayangkara Makassar pasien yang mengidap penyakit Pneumoconiosis
pada tahun 2009 sebanyak 73 orang, persentasinya yaitu 72,1%. Sedangkan pada
tahun 2010 sebanyak 53 orang, persentasinya yaitu 52,2%.
Selain untuk memenuhi persyaratan
untuk mengikuti UN/UAS SMK Pratidina Makassar Tahun Ajaran 2011/2012, penulis
berinisiatif mengambil judul ini karena menganggap Pneumoconiosis adalah salah satu hal yang perlu
dikaji karena masalah ini sangat penting untuk dibahas dan diperkenalkan kepada
masyarakat karena masyarakat masih banyak yang kurang mengetahui bahkan belum
pernah mendengar penyakit Pneumoconiosis yang disebabkan oleh lingkungan
sekitar
Dengan adanya pembuatan karya tulis ilmiah ini bertujuan
untuk membuat kita berpikir kritis dan lebih memahami tentang Pneumoconiosis
serta mendapatkan pengetahuan tentang sistem pernapasan pada manusia.
B.
Rumusan
Masalah
Berdasarkan
latar belakang diatas penulis akan menguraikan beberapa batasan, yaitu sebagai
berikut :
1. Pengertian
dari pneumoconiosis ?
2. Penyebab
dari pneumoconiosis ?
3. Tanda
dan gejala dari pneumoconiosis ?
4. Pencegahan
dari pneumoconiosis ?
5. Pengobatan
dari pneumoconiosis ?
C.
Tujuan
Penulisan
Dengan adanya
pembuatan karya tulis ilmiah ini bertujuan untuk membuat siswa siswi lebih
memahami tentang pneumoconiosis. Pembuatan karya tulis ilmiah ini juga dapat
digunakan sebagai penambah ilmu pengetahuan yang sangat berharga dalam
memberikan asuhan keperawatan serta mengaplikasikan ilmu yang didapatkan selama
pendidikan.
D.
Metode
Penulisan
Dalam penulisan
karya tulis tlmiah ini, penulis menggunakan metode yang dilakukan dengan cara
mendapatkan penggambaran dari literatur buku sebagai sumber serta menggunakan
browsing internet yang dilakukan dengan cara pengumpulan data, menganalisis
serta menarik kesimpulan berdasarkan sumber yang sesuai yang berkaitan dengan
masalah yang diangkat untuk melengkapi materi yang akan dilampirkan
E.
Sistematika
Penulisan
Adapun
sistematika penulisan dari Karya Tulis Ilmiah ini, yaitu sebagai berikut :
1. BAB
I PENDAHULUAN berisi : latar belakang, rumusan masalah, tujuan penulisan,
metode penulisan, dan sistematika penulisan.
2. BAB
II TINJAUAN PUSTAKA berisi : pengertian, patofisiologi, etiologi, tanda dan
gejala, manifestasi klinis, pemeriksaan diagnostik, pemeriksaan penunjang,
pelaksanaan medic, pencegahan dan pengobatan.
3. BAB
III PEMBAHASAN berisi : pengkajian, diagnosa keperawatan, rencana keperawatan,
dan catatan perkembangan.
4. BAB
IV PENUTUP berisi : kesimpulan dan saran
5. DAFTAR
PUSTAKA
BAB
II
TINJAUAN
PUSTAKA
A.
Pengertian
Pneumoconiosis
adalah penyakit paru-paru kronis yang disebabkan karena menghirup berbagai
partikel debu, khususnya ditempat kerja industri, untuk jangka waktu yang lama.
Oleh karena itu juga dikatakan penyakit paru kerja, yang merupakan bagian
tertentu dari penyakit terkait kerja, yang terkait terutama untuk yang terkena
zat berbahaya.
Pneumoconiosis
adalah penyakit yang disebabkan oleh menghirup debu organik dan merupakan
subset dari penyakit paru kerja, yang juga termasuk gangguan yang disebabkan
oleh menghirup gas, uap dan bahan organik.
Pneumoconiosis
adalah sekelompok penyakit yang disebabkan karena inhalasi debu anorganik dan
organic tertentu. Beberapa jenis debu yang terinhalasi dalam kadar yang cukup
banyak kedalam paru akan menimbulkan reaksi fibrosis, sedangkan debu lainnya
tidak mempunyai pengaruh apa-apa. Pneumoconiosis yang paling umum adalah
silikosis dan asbestosis. (http :
//id.wikipedia.org/wiki/Pneumoconiosis)
B.
Patofisiologi
Sebagian besar pneumonia didapat
melalui aspirasi partikel infektif. Partikel infeksius difiltrasi di hidung,
atau terperangkap dan dibersihkan oleh mukus dan epitel bersilia di saluran
napas. Bila suatu partikel (virus/bakteri) dapat mencapai paru-paru, partikel
tersebut akan berhadapan dengan makrofag alveoler, dan juga dengan mekanisme
imun sistemik, dan humoral.
Pada saat tubuh mengalami perubahan
pertahanan anatomis dan fisiologis, maka partikel infeksius tersebut dapat
mencapai paru, kemudian menyebar dan menyebabkan pneumonia. Lebih dari 40 mineral dihirup menyebabkan lesi
paru-paru dan kelainan x-ray. Sebagian besar, seperti timah, barium, dan besi,
relatif berbahaya dan menumpuk di paru-paru dalam cara yang sama seperti batu
bara, tetapi tidak menghasilkan atau fungsional kelainan morfologi.
Debu asbes masuk ke dalam tubuh
melalui berbagai cara. Antara lain dengan mengisap debu ketika bernapas,
menelannya bersama ludah dan dahak, atau mengonsumsi makanan serta minuman yang
mengandung sejumlah kecil serat-serat tersebut. Sebagian serat yang tertelan
diduga menembus dinding usus, tetapi migrasi selanjutnya dalam tubuh tidak
diketahui. Setelah masa laten yang panjang, antara 20-40 tahun, serat tersebut
bisa menimbulkan kanker paru. (http : //id.wikipedia.org/wiki/Pneumoconiosis)
C. Etiologi
Pneumokoniosis bisa disebabkan oleh
terhirupnya debu logam besi, perak/kaleng dan barium. Siderosis terjadi sebagai
akibat dari terhirupnya oksida besi, baritosis terjadi karena menghirup barium
dan stannosis terjadi karena terhisapnya unsur-unsur perak. Adapun jenis-jenis
dari pneumoconiosis adalah :
1.
Silikosis
Silikosis
adalah penyakit paru kronis yang disebabkan menghirup debu silica (partikel
silicon dioksida). Pemajanan terhadap silikon dan silikat terjadi pada hamper
semua kegiatan pertambangan, penggalian dan pengeboran. Pemotongan batu, pabrik
pengamplas dan bahan tembikar serta pengecoran logam adalah pekerjaan lain
dengan pemajanan bahaya.
a)
Patofisiologi
Jika
partikel silica, yang mempunyai sifat fibrogenik, terhirup akan dibentuk lesi
nodular di seluruh paru. Dengan berjalannya waktu dan pemajanan lebih lanjut,
nodulus membesar dan bersatu. Masa padat terbentuk pada bagian atas
paru-paru, mengakibatkan penurunan volume paru
b)
Manifestasi Klinis
Pasien dapat mengalami gajala-gejala indikatif hipoksemia,
obstruksi jalan nafas yang berat, gagal jantung sebelah kanan. Edema dapat
terjajdi karena gagal jantung.
c)
Penatalaksanaan Medis
Tidak terdapat pengobatan spesifik untuk silikosis. Terapi
diarahkan pada penanganan komplikasi dan pencegahan infeksi. Pemeriksaan
dilakukan untuk menyingkirkan tuberculosis. Jika terdapat tuberculosis, diatasi
secara agresif. Terapi tambahan dapat mencakup oksigen dan terapi bronkodilator
(teofilin dan ipratropium bromida).
2.
Asbestosis
Adalah penyakit yang ditandai oleh fibrosis paru difus
akibat inhalasi debu asbestos.
a)
Patofisiologi
Serat asbestos, jika terhirup
memasuki alveoli yang pada akhirnya terobliterasi oleh jaringan fibrosis yang
mengelilingi partikel asbestos. Perubahan fibrosis juga mempengaruhi pleura
yang menebal dan menjadi plak. Akibat dari perubahan fisiologis ini adalah
penyakit restriktif dengan penurunan dalam volume paru, menghilangkan
pertukaran oksigen dan kaarbondioksida serta hipoksemia.
b)
Manifestasi klinis
Pasien
mengalami dispnea yang menjadi buruk serta progresif, nyeri dada ringan sampai
sedang, anoreksi dan penurunan berat badan. Kor pulmonal dan gagal nafas
terjadi sejalan dengan kemajuan penyakit.
c)
Penatalaksanaan Medis
Tidak terdapat pengobatan efektif untuk asbestosis.
Penatalaksanaan diarahkan pada pengendalian infeksi dan mengobati penyakit
paru. Bila pertukaran oksigen-karbon dioksida menjadi sangat terganggu, terapi
oksigen kontinu dapat membantu memperbaiki toleransi aktivitas.
(http
: //id.wikipedia.org/wiki/Pneumoconiosis)
D. Tanda
dan Gejala
Dalam bentuk yang lebih ringan,
pneumokoniosis mungkin tidak memiliki gejala apapun. Namun, ketika gejala itu
berkembang, mereka mungkin:
1. Sesak napas, terutama pada saat tenaga
dipakai
2. Batuk kronis yang mungkin atau
mungkin tidak disertai dengan lendir. Jika ada fibrosis parah dari paru-paru,
dapat menjadi sangat sulit untuk bernafas, dan ketika ini terjadi, mungkin
menyebabkan kaku dan bibir mendapatkan semburat kebiruan. Dalam bentuk lanjutan
dari pneumokoniosis, ada mungkin juga pembengkakan pada kaki akibat regangan
berlebihan pada jantung.
(http : //id.wikipedia.org/wiki/Pneumoconiosis)
E. Manifestasi
Klinik
Pada pasien yang menderita
pneumoconiosis dapat terjadi, sebagai berikut :
1. Pasien mengalami dispnea menjadi
buruk serta progresif
2. Pneumoconiosis umumnya batuk
nonproduktif kecuali apabila terjadi bronchitis kronis
3. Restriksi hebat volume inspirasi
serta nadi cepat dan bersambung
4. Dapat terjadi sianosis akibat penurunan
ventilasi disertai penurunan kecepatan difusi. (http : //id.wikipedia.org/wiki/Pneumoconiosis)
F. Pemeriksaan
Diagnostik
Pemeriksaan diagnostic pada penyakit
pneumoconiosis meliputi :
1. Gas Darah Arteri (GDA) menunjukkan
oksigenasi darah normal (PaO2) rendah dan eliminasi karbon
dioksida (PaCO2) tinggi
2. Sinar X dada menunjukkan peningkatan
kapasitas paru dan volume cadangan
3. Klutur sputum positif (+) bila ada
infeksi. Sputum biasanya berbau busuk bila abses pecah ke rongga pleura
4. Tes fungsi paru : volume mungkin
menurun, tekanan saluran udara meningkat dan kapasitas pemenuhan udara menurun.
5. Tes serologi : membantu dalam
membedakan diagnosis pada organisme secara spesifik.
6. Chest X-ray : teridentifikasi adanya
penyebaran. (Somantri, Irman. 2008:70)
G. Pemeriksaan
Penunjang
Pemeriksaan penunjang yang penting untuk meningkatkan
diagnosis dan menilai kerusakan yang diakibatkan oleh penyakit pneumoconiosis
adalah :
1. Pemeriksaan Radiologis
Pemeriksaan foto thorax sangat berguna untuk melihatkelainan
yang ditimbulkan oleh debu pada
Pneumokoniosis.Klasifikasi Standar menurut ILO dipakai untuk menilai kelainan
yang timbul. Pembacaan foto Thorax pneumokoniosis perlu dibandingkan, dengan foto standar untuk menentukan
klasifikasi kelainan. Kualitas foto harus
baik atau dapat diterima untuk dapat menginterpretasikan kelainan paru
lewat foto Rontgen.
2. Pemeriksaan faal paru dengan
spirometri
Pemeriksaan faal paru yang sederhana, cukup sensitive dan
reprodusibel serta digunakan secara luas adalah Pemeriksaan Kapasitas Vital
Paru dan Volume Ekspirasi Paksa pada detik pertama. Selain berguna untuk
menunjang diagnosis juga perlu untuk melihat laju penyakit, efektivitas
pengobatan dan menilai prognosis. Pemeriksaan sebelum seseorang bekerja dan
pemeriksaan berkala setelah bekerja dapat mengidentifikasi penyakit dan
perkembangannya, pada pekerja yang sebelumnya tidak memiliki gejala.
3. Pemeriksaan
penunjang lain yang bisa digunakan untuk keperluan penegakan diagnosis adalah
CT Scan , Broncho Alveolar Lavage ( BAL ) dan Biopsi paru. (http : //id.wikipedia.org/wiki/Pneumoconiosis)
H. Pelaksanaan
Medik
Pelaksanaan medik dari penyakit
pneumoconiosis, yaitu sebagai berikut :
1. Pengobatan ditujukan untuk
mengurangi permasalahan lebih lanjut dan factor aktif lain, seperti merokok
2. Pencegahan dan pengobatan untuk
komplikasi misalnya pneumonia dengan antibiotic juga perlu dilakukan
3. Penekanan debu dengan pengendalian
teknis, dimana pekerja harus memakai masker, tutup kepala bertekanan
4. Pemberian oksigen jika terjadi
komplikasi lebih lanjut
5. Bila terjadi gagal napas, berikan
nutrisi dengan kalori yang cukup
(http : //id.wikipedia.org/wiki/Pneumoconiosis)
6. Terapi umum yang dilakukan yaitu :
a) Istirahat : tidak selalu perlu
dirawat inap
b) Diet : cairan harus cukup
7. Obat pertama yang digunakan yaitu
Kartimoksazol + asam folat → obat pilihan 14 – 21 hari
8. Obat alternatif yang digunakan yaitu
:
a) Pentamidin parenteral
b) Klidamisin parenteral + primakuin
c) Trimtreksat + leukovorin. (Mubin A.
Halim:225 dan 227)
I. Pencegahan
Pneumokoniosis dapat dicegah dengan menghindari debu pada lingkungan
kerja. Pekerja harus menjalani pemeriksaan foto dada tiap 4-5 tahun sehingga
penyakit ini dapat ditemukan pada stadium awal. Jika ditemukan penyakit, maka
pekerja tersebut harus dipindahkan ke daerah dimana kadar debunya rendah, untuk
menghindari terjadinya fibrosis masif progresif. (http :
//id.wikipedia.org/wiki/Pneumoconiosis)
J.
Pengobatan
Tidak ada pengobatan khusus untuk penyakit ini, selain untuk mengobati
komplikasinya (gagal jantung kanan atau tuberkulosis paru). Jika terjadi
gangguan pernapasan, maka diberikan bronkodilator dan ekspektoran. (http:
//id.wikipedia.org/wiki/Pneumoconiosis)
BAB
III
PEMBAHASAN
A.
Pengkajian
Pengkajian yang
harus dilakukan pada klien yang menderita penyakit pneumoconiosis adalah :
1. Riwayat
atau adanya faktor-faktor penunjang, seperti :
a) Merokok
produk tembakau sebagai faktor penyebab utama
b) Tinggal
atau bekerja didaerah dengan polusi udara berat
c) Riwayat
alergi pada keluarga
2. Riwayat
atau adanya factor-faktor pencetus, seperti :
a) Allergen
(serbuk, debu, kulit, dan jamur)
b) Stress
emosional
c) Aktivitas
fisik yang berlebihan
d) Polusi
udara
e) Infeksi
saluran nafas
f) Kegagalan
program pengobatan yang dianjurkan
3. Pemeriksaan
fisik berdasarkan focus pada system pernafasan yang meliputi :
a) Kaji
frekuensi dan irama pernafasan
b) Infeksi
warna kulit dan warna membrane mukosa
c) Auskultasi
bunyi nafas
d) Pastikan
bila pasien menggunakan otot-otot aksesori bila bernafas :
1) Mengangkat
bahu pada saat bernafas
2) Retraksi
otot-otot abdomen pada saat bernafas
3) Pernafasan
kuping hidung
e) Kaji
bila ekspansi dada simetris atau asimetris
f) Kaji
bila nyeri dada pada pernafasan
g) Kaji
batuk (apakah produktif atau nonproduktif). Bila produktif tentukan warna
sputum
h) Tentukan
bila pasien mengalami dispneu atau orthopneu
i)
Kaji tingkat kesadaran
4. Kaji
persepsi diri pasien
5. Kaji
berat badan dan masukan rata-rata cairan.
(http :
//id.wikipedia.org/wiki/Pneumoconiosis)
B.
Diagnosa
Keperawatan
Adapun
diagnosa keperawatan dari penyakit pneumoconiosis, yaitu sebagai berikut :
1. Tak
efektif bersihan jalan nafas berhubungan dengan peningkatan secret atau sekresi
kental
2. Ansietas
berhubungan dengan sulit bernafas dan ketakutan akan sufokasi
3. Gangguan
pola tidur yang berhubungan dengan batuk, ketidakmampuan melakukan posisi
terlentang, ransang lingkungan
4. Perubahan
nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan hilangnya nafsu makan
dan mual muntah
5. Gangguan
pertukaran gas berhubungan dengan obstruksi jalan nafas
6. Risiko
tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan proses penyakit kronis
7. Nyeri
berhubungan dengan inflamasi parenkim paru
8. Kurang
pengetahuan mengenai kondisi dan kebutuhan tindakan berhubungan dengan
kesalahan interprestasi
9. Intoleransi
aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan
oksigen
10. Risiko tinggi terhadap kekurangan volume
cairan berhubungan dengan demam,
berkeringat, dan muntah.
(http : //id.wikipedia.org/wiki/Pneumoconiosis)
C.
Intervensi
Keperawatan
1. Bersihkan
jalan napas tidak efektif
a) Intervensi
pada penyakit pneumoconiosis adalah :
1) Mengkaji
jumlah kedalaman pernapasan dan pergerakan dada
2) Evaluasi
kepala sering ubah posisi
3) Membantu
pasien melakukan latihan napas dalam
4) Memberikan
cairan 2500ml/hari dan air hangat
b) Rasional
pada penyakit Pneumoconiosis adalah :
1) Melakukan
evaluasi awal untuk melihat kemajuan dari hasil intervensi yang telah dilakukan
2) Diafragma
yang lebih rendah akan membantu dalam meningkatkan ekspansi dada, pengisian
udara, mobilisasi dan pengeluaran sekret
3) Napas
dalam akan menfasilitasi pengembangan maksimum paru-paru
4) Cairan
akan membantu memobilisasi dan mengeluarkan sekret
c) Tujuan
dari intervensi yang dilakukan adalah :
1) Secara
verbal tidak ada keluhan sesak
2) Suara
napas normal
3) Jumlah
pernapasan dalam batas normal sesuai usia
2. Kerusakan
pertukaran gas
a) Intervensi
pada penyakit Pneumoconiosis adalah :
1) Mengobservasi
warna kulit , membran mukosa, dan kuku serta mencatat adanya sianosis perifer (
kuku )
2) Memonitor
denyut jantung
3) Memonitor
suhu tubuh bila ada indikasi
b) Rasional
pada penyakit Pneumoconiosis adalah :
1) Sianosis
kuku menggambarkan vasokonstriksi atau respon tubuh terhadap demam
2) Takikardia
biasanya timbul sebagai hasil dari demam.
3) Demam
tinggi akan meningkatkan kebutuhan metabolisme dan konsumsi oksigen
c) Tujuan
dari intervensi yang dilakukan adalah :
1) Keluhan
dispnea berkurang
2) Denyut
nadi dalam rentang normal
3) Kesadaran
penuh. (Doenges dan Moorhouse. 2000:71 dan 73)
D.
Evaluasi
Catatan
perkembangan pada penyakit pneumoconiosis adalah :
1. Meningkatkan
pemahaman situasi yang ada dan penting dengan program pengobatan
2. Meminimalkan
kelelahan dan membantu keseimbangan suplai dan kebutuhan oksigen
3. Kelemahan
dan depresi dapat mempengaruhi kemampuan untuk mengasimilasi informasi atau
mengikuti program medic
4. Setelah
pulang, pasien berisiko besar untuk kambuh
5. Upaya
evaluasi dan intervensi tepat waktu dapat mencegah dan meminimalkan komplikasi
6. Menjaga
dan mengembalikan fungsi respirasi
7. Mendukung
proses penyembuhan
(http : //id.wikipedia.org/wiki/Pneumoconiosis dan
Somanti, Irman. 2008:70)
BAB
IV
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Ada beberapa kesimpulan yang dapat diambil
dari karya tulis ilmiah ini antara lain, sebagai berikut :
1. Pneumoconiosis
adalah penyakit paru-paru kronis yang disebabkan karena menghirup berbagai
partikel debu, khususnya ditempat kerja industry, untuk jangka waktu yang lama.
2. Pneumonia didapat melalui aspirasi
partikel infektif. Partikel infeksius difiltrasi di hidung, atau terperangkap
dan dibersihkan oleh mukus dan epitel bersilia di saluran napas.
3. Pneumoconiosis bisa disebabkan oleh
terhirupnya debu logam besi, perak/kaleng dan barium.
4. Jenis-jenis
dari pneumoconiosis adalah silikosis dan asbestosis.
5. pneumoconiosis mungkin tidak
memiliki gejala apapun. Namun, ketika gejala itu berkembang, mereka mungkin
sesak napas, terutama pada saat tenaga dipakai dan batuk kronis yang mungkin
atau mungkin tidak disertai dengan lendir.
6. Pada pasien yang menderita
pneumoconiosis dapat terjadi, dispnea menjadi buruk serta progresif, restriksi
hebat volume inspirasi serta nadi cepat dan bersambung, dan dapat terjadi
sianosis.
7. Pada penyakit pneumoconiosis pemeriksaan
diagnnostiknya dapat meliputi pemeriksaan Gas Darah Arteri, Sinar X dada,
Klutur Sputum, Tes Fungsi Paru, Esei Imunoglobin, Tes Hemoglobin dan EKG.
8. Pemeriksaan penunjang yang penting
untuk meningkatkan diagnosis meliputi pemeriksaan radiologis dan pemeriksaan
faal paru dengan spirometri.
9. Pneumoconiosis
dapat dicegah dengan menghindari debu pada lingkungan kerja.
10. Jika terjadi gangguan pernapasan, maka
diberikan bronkodilator dan ekspektoran.
B.
Saran
Saran yang dapat penulis sampaikan
pada karya tulis ilmiah ini adalah :
1. Agar
masyarakat senang tiasa menjaga, memperhatikan serta memelihara kesehatan.
2. Menjaga
dan memperbaiki pola hidup agar terhindar dari segala macam penyakit, termasuki
terhindar dari penyakit pneumoconiosis.
3. Memperhatikan
kebersihan perseorangan dan kebersihan lingkungan.
4. Pada
pasien yang menderita penyakit pneumoconiosis sebaiknya melakukan pengobatan
sampai benar-benar sembuh.
DAFTAR
PUSTAKA
http:
//id.wikipedia.org/ wiki/ Pneumoconiosis
http://eprints.undip.ac.id/18220/1/SITI
YULAEKAH
http://wwwdagul88.blogspot.com
Mubin A.Halim. Ilmu penyakit dalam. Buku kedokteran
EGC.
Nettina M. Sandra. 2001. Pedoman praktik keperawatan. Buku
kedokteran EGC.
somantri, Irman. 2008. Asuhan Keperawatan Pada Pasien
Dengan Gangguan Sistem Pernapasan.
Jakarta : Salemba Medika
Tidak ada komentar:
Posting Komentar