Kamis, 31 Januari 2013



MAKALAH GENETIKA DASAR
PENDAHULUAN
Genetika disebut juga ilmu keturunan, berasal dari kata genos (bahasa latin), artinya suku bangsa-bangsa atau asal-usul. Secara “Etimologi”kata genetika berasal dari kata genos dalam bahasa latin, yang berarti asal mula kejadian. Namun, genetika bukanlah ilmu tentang asal mula kejadian meskipun pada batas-batas tertentu memang ada kaitannya dengan hal itu juga. Genitika adalah ilmu yang mempelajari seluk beluk alih informasi hayati dari generasi kegenerasi. Oleh karena cara berlangsungnya alih informasi hayati tersebut mendasari adanya perbedaan dan persamaan sifat diantara individu organisme, maka dengan singkat dapat pula dikatakan bahwa genetika adalah ilmu tentang pewarisan sifat .Dalam ilmu ini dipelajari bagaimana sifat keturunan (hereditas) itu diwariskan kepada anak cucu, serta variasi yang mungkin timbul didalamnya.
Ilmu ini tidak cocok diterjemah dengan ilmu kebakaran, karena sebagaimana tampak nanti, bahan sifat keturunan itu tidaklah bersifat baka. Selalu mengalami perubahan, berangsur atau mendadak. Seluruh makluk bumi mengalami evolusi termasuk manusia. Evolusi itu terjadi karena perubahan bahan sifat keturunan, dan dilaksanakan oleh seleksi alam.
Genitika perlu dipelajari, agar kita dapat mengetahui sifat-sifat keturunan kita sendiri serta setiap makhuk hidup yang berada dilingkungan kita. kita sebagai manusia tidak hidup autonom dan terinsolir dari makhuk lain sekitar kita tapi kita menjalin ekosistem dengan mereka. karena itu selain kita harus mengetahui sifat-sifat menurun dalam tubuh kita, juga pada tumbuhan dan hewan. Lagi pula prinsip-prinsep genetika itu dapat disebut sama saja bagi seluruh makluk. Karena manusia sulit dipakai sebagai objek atau bahan percobaan genetis, kita mempelajari hukum-hukumnya lewat sifat menurun yang terkandung dalam tubuh-tumbuhan dan hewan sekitar. Genetika bisa sebagai ilmu pengetahuan murni, bisa pula sebagai ilmu pengetahuan terapan. Sebagai ilmu pengetahuan murni ia harus ditunjang oleh ilmu pengetahuan dasar lain seperti kimia, fisika dan metematika juga ilmu pengetahuan dasar dalam bidang biologi sendiri seperti bioselluler, histologi, biokimia, fiosiologi, anatomi, embriologi, taksonomi dan evolusi. Sebagai ilmu pengetahuan terapan ia menunjang banyak bidang kegiatan ilmiah dan pelayanan kebutuhan masyarakat.
SEJARAH PERKEMBAGAN
Sejarah perkembangan genetika sebagai ilmu pengetahuan dimulai menjelang akhir abad ke 19 ketika seorang biarawan austria bernama Gregor Johann Mendel berhasil melakukan analisis yang cermat dengan interpretasi yang tepat atas hasil-hasil percobaan persilangannya pada tanaman kacang ercis (Pisum satifum). Sebenarnya, Mendel bukanlah orang pertama yang melakukan percobaan- percobaan persilangan. Akan tetapi, berbeda dengan para pendahulunya yang melihat setiap individu dengan keseluruhan sifatnya yang kompleks, Mendel mengamati pola pewarisan sifat demi sifat sehingga menjadi lebih mudah untuk diikuti. Deduksinya mengenai pola pewarisan sifat ini kemudian menjadi landasan utama bagi perkembangan genetika sebagai suatu cabang ilmu pengetahuan, dan Mendelpun di akui sebagai bapak genetika.
Karya Mendel tentang pola pewarisan sifat tersebut dipublikasikan pada tahun 1866 di Proceedings of the Brunn Society for Natural History. Namun, selama lebih dari 30 tahun tidak pernah ada peneliti lain yang memperhatikannya. Baru pada tahun 1900 tiga orang ahli botani secara terpisah, yaitu Hugo de Vries di belanda, Carl Correns di jerman dan Eric von Tschermak-Seysenegg di Austria, melihat bukti kebenaran prinsip-prinsip Mendel pada penelitian mereka masing-masing. Semenjak saat itu hingga lebih kurang pertengahan abad ke-20 berbagai percobaan persilangan atas dasar prinsip-prinsip Mendel sangat mendominasi penelitian di bidang genetika. Hal ini menandai berlangsungnya suatu era yang dinamakan genetika klasik.
Selanjutnya, pada awal abad ke-20 ketika biokimia mulai berkembang sebagai cabang ilmu pengetahuan baru, para ahli genetika tertarik untuk mengetahui lebih dalam tentang hakekat materi genetik, khususnya mengenai sifat biokimianya. Pada tahun 1920-an, dan kemudian tahun 1940-an, terungkap bahwa senyawa kimia materi genetika adalah asam dioksiribonekleat (DNA). Dengan ditemukannya model struktur molekul DNA pada tahun1953 oleh J.D.Watson dan F.H.C. Crick dimulailah era genetika yang baru, yaitu genetika molekuler.
Perkembangan penelitian genetika molekuler terjadi demikian pesatnya. Jika ilmu pengetahuan pada umumnya mengalami perkembangan dua kali lipat (doubling time) dalam satu dasa warsa, maka hal itu pada genetika molekuler hanyalah dua tahun. Bahkan, perkembangan yang lebih revolusioner dapat disaksikan semenjak tahun 1970-an, yaitu pada saat dikenalnya teknologi manipulasi molekul DNA atau teknologi DNA rekombinan atau dengan istilah yang lebih populer disebut rekayasa genetika.
Saat ini sudah menjadi berita biasa apabila organisme- organisme seperti domba, babi dan kera, didapatkan melalui teknik rekayasa genetika yang disebut kloning . sementara itu, pada manusia telah di lakukan pemetaan seluruh genom atau dikenal sebagai proyek genom manusia (human genom project), yang diluncurkan pada tahun 1990 dan diharapkan selesai pada tahun 2005. ternyata pelaksaan proyek ini berjalan justru lebih cepat dua tahun dari pada jadwal yang telah ditentukan.
KONTRIBUSI KE BIDANG-BIDANG LAIN
Sebagai ilmu pengetahuan dasar, genetika dengan konsep-konsep di dalamnya dapat berinteraksi dengan berbagai bidang lain untuk memberikan kontribusi terapannya.
1. Pertanian
Di antara kontribusinya pada berbagai bidang, kontribusi genetika di bidang pertanian, khususnya pemuliaan tanaman dan ternak, boleh dikatakan paling tua. Persilangan-persilangan konvensional yang dilanjutkan dengan seleksi untuk merakit bibit unggul, baik tanaman maupun ternak, menjadi jauh lebih efisien berkat bantuan pengetahuan genetika. Demikian pula, teknik-teknik khusus pemulian seperti mutasi, kultur jaringan, dan fusi protoplasma kemajuannya banyak dicapai dengan pengetahuan genetika. Dewasa ini beberapa produk pertanian, terutama pangan, yang berasal dari organisme hasil rekayasa genetika atau genetically modified organism (GMO) telah dipasarkan cukup luas meskipun masih sering mengundang kontroversi tentang keamanan.
Contoh lain dari perkembangan ilmu genetika dibidang pertanian adalah di temukanya cara baru dalam mengatasi serangga hama yaitu dengan cara perakitan tanaman tahan serangga hama melalui teknik rekayasa genetik. Salah satu kendala dalam produksi suatu komoditas tanaman di negara yang beriklim tropis dan lembab adalah serangan organisme pengganggu tumbuhan (OPT) seperti serangga hama dan patogen tumbuhan. Bahkan pada tanaman tertentu seperti padi.
Serangga hama masih merupakan kendala utama dan menjadi masalah serius, misalnya wereng coklat dan peng-gerek batang. Di negara tertentu se-perti Amerika Serikat (AS), kerugian akibat kerusakan yang ditimbulkan serangga hama seperti penggerek jagung dan penggerek buah kapas bisa mencapai jutaan dolar AS. Usaha pengendalian yang biasa dilakukan petani adalah menggunakan cara bercocok tanam yang tepat yang meliputi penanaman Hak Cipta  2002, Balitbio varie-tas tahan dan pergiliran tanaman, serta penyemprotan insektisida.
Di negara maju, seperti AS, untuk menanggulangi OPT dari jenis serangga hama, petani sudah menggunakan insektida hayati yang berasal dari bakteri Bacillus thuri-ngiensis (Bt) selama lebih dari 30 tahun. Namun secara komersial produksi insektisida hayati terbatas dan pengaruh perlindungannya hanya berumur pendek. Selain pengendalian dengan insektisida, petani juga menggunakan varietas tahan. Penggunaan varietas tahan merupakan cara pengendalian serangga hama yang murah dan ramahlingkungan. Perbaikan sifat tanaman dapat dilakukan melalui modifikasi genetic baik dengan pemuliaan tanaman secara konvensional maupun dengan bioteknologi khususnya tek-nologi rekayasa genetik. Kadang-kadang dalam perakitan
varietas tanaman tahan serangga hama, pemulia konvensional menghadapi suatu kendala yang sulit dipecah-kan, yaitu langkanya atau tidak ada-nya sumber gen ketahanan di da-lam koleksi plama nutfah. Contoh sumber gen ketahanan yang langka adalah gen ketahanan terhadap se-rangga hama, misalnya penggerek batang
padi, penggerek polong ke-delai, hama boleng ubi jalar, peng-gerek buah kapas (cotton bolworm), dan penggerek jagung (Herman, 1997). Akhir-akhir ini, ke-sulitan pemulia konvensional terse-but dapat diatasi dengan teknologi rekayasa genetik melalui tanaman transgenik (Herman, 1996).
Pemulian dan perekayasa genetik mempunyai tujuan yang sama. Pemulia ta-naman secara konvensional mela-kukan persilangan dan atau seleksi, sedangkan perekayasa genetik mengembangkan secara terus menerus dan memanfaatkan teknik isola-si dan transfer gen dari sifat yang di-inginkan. Melalui rekayasa genetik sudah dihasilkan tanaman transgenic yang memiliki sifat baru seperti ketahan-an terhadap serangga hama atau herbisida atau peningkatan kualitas hasil. Tanaman transgenik tahan serangga hama tersebut sudah banyak ditanam dan dipasarkan di berbagai negara (James, 2002a). Sedangkan di Indonesia, tanaman transgenik tahan serangga hama baru pada taraf penelitian perakitannya. Dalam makalah ini akan dijelaskan tentang tanaman transgenic tahan serangga hama, perkembangan tanaman transgenic secara global, dan status tanaman transgenik di Indonesia.
2. Kesehatan
Salah satu contoh klasik kontrubusi genetika di bidang kesehatan adalah diagnosis dan perawatan penyakit fenilketonurani (PKU). Penyakit ini merupakan penyakit menurun yang disebabkan oleh mutasi gen pengatur katabolisme fenilalanin sehingga timbunan kelebihan fenilalanin akan dijumpai di dalam aliran darah sebagai derivat-derivat yang meracuni sistem syaraaf pusat. Dengan diet fenilalanin yang sangat ketat, bayai tersebut dapat terhindar dari penyakit PKU meskipun gen mutan penyebabnya sendiri sebenarnya tidak diperbaiki.
Beberapa penyakit genetika lainnya telah dapat diatasi dampaknya dengan cara seperti itu. Meskipun demikia, hingga sekarang masih banyak penyakit yang menjadi tantangan para peneliti dari kalangan kedokteran dan genetika untuk menanganinya seperti perkembangannya resistensi bakteri patogen terhadap antibiotok, penyakit-penyakit kanker, dan sindrom hilangnya kekebalan bawaan atau acquired immunodeficiency syndrome (AIDS).
Contoh lain dari perkembangan ilmu genetika dibidang kesehatan adalah proyek genom manusia yang dipelopori oleh amerika serikat dimana proyek ini akan menguraikan 100.000 gen manusia. Diperkirakan pada abad XXI mendatang akan muncul bidang kedokteran baru yang disebut ilmu kedokteran prediktif (predictive medicine). Munculnya ilmu kedokteran tersebut di mungkinkan karena pada abad XXI mendatang, diperkirakan seluruh informasi dari genom manusia yang mengandung 100.000 gen akan teridentifikasi. Dengan diketahuinya genom manusia dapat digunakan memprediksi berbagai penyakit, artinya dengan ilmu kedoktran prediktif dapat diketahui kemungkinan seseorang mengalami kanker payudara atau kanker calon rental dengan melakukan analisa terhadap kombinasi gen-gen yang dipunyai orang tersebut.
3. Industri farmasi
Teknik rekayasa genetika memungkinkan dilakukannya pemotongan molekul DNA tertentu. Selanjutnya, fragmen-fragmen DNA hasil pemotongan ini disambungkan dengan molekul DNAlain sehingga terbentuk molekul DNA rekombinan. Apabila molekul DNA rekombinan dimasukkan kedalam suatu sel bakteri yang sangat cepat pertumbuhannya, misalnya Escherichia coli, maka dengan mudah akan diperoleh salinan molekul DNA rekombinan dalam jumlah besar dan waktu yang singkat. Jika molekul DNA rekombinan tersebut membawa gen yang bermanfaat bagi kepentingan manusia, maka berarti gen ini telah diperbanyak dengan cara yang mudah dan cepat. Prinsip kerja semacam ini telah banyak di terapkan diberbagai industri yang memproduksi biomolekul penting seperti insulin, interferon, dan beberapa hormon pertumbuhan.
4. Hukum
Sengketa dipengadilan untuk menentukan ayah kandung bagi seorang anak secara klasik sering diatasi melalui pengujian golongan darah. Pada kasus-kasus tertentu cara ini dapat menyelesaikan masalah dengan cukup memuaskan, tetapi tidak jarang hasil yang diperoleh kurang meyakinkan. Belakangan ini dikenal cara yang jauh lebih canggih, yaitu uji DNA. Dengan membandingkan pola restriksi pada molekul DNA anak,ibu, dan orang yang dicurigai sebagai ayah kandung anak, maka dapat diketahui benar tidaknya kecurigaan tersebut.
Dalam kasus-kasus kejahatan seperti pembunuhan, pemerkosaan, dan bahkan teror pengeboman, teknik rekayasa genetika dapat diterapkan untuk memastikan benar tidaknya tersangka sebagai pelaku. Jika tersangka masih hidup pengujian dilakukan dengan membandingkan DNA tersangka dengan DNA objek yang tertinggal di tempat kejadian, misalnya rambut atau sperma. Cara ini dikenal sebagai sebagia sidik jari DNA (DNA finger printing). Akan tetapi, jika tersangka mati dan tubuhnya hancur, maka DNA dari bagian-bagian tubuh tersangka dicocokkan pola restruksinya dengan DNA kedua orang tuanya atau saudara-saudaranya yang masih hidup.
5. Kemasyarakatan dan kemanusiaan
Di negara-negara maju, terutama di kota-kata besarnya, dewasa ini dapat dijumpai klinik konsultasi genetik yang antara lain berperan dalm memberikan pelayanan konsultasi perkawinan. Berdasarkan atas data sifat-sifat genetik, khususnya penyakit genetik, pada kedua belah pihak yang akan menikah, dapat dijelaskan berbagai kemungkinan penyakit genetik yang akan diderita oleh anak mereka, dan juga besar kecilnya kemungkinan tersebut.
Contoh kontribusi pengetahuan genetika di bidang kemanusiaan antara lain dapat di lihat pada gerakan yang dinamakan eugenika, yaitu gerakan yang berupaya untuk memperbaiki kualitas genetika manusia. Jadi, dengan gerakan ini sifat-sifat positif manusia akan di kembangkan, sedangkan sifat-sifat negatifnya ditekan. Di berbagai negara, terutama di negara-negara berkembang, gerakan eugenika masih sering dianggap tabu. Selain itu, ada tantangan yang cukup besar bagi keberhasilan gerakan ini karena pada kenyataannya orang yang tingkat kecerdasannya tinggi dengan status sosial ekonomi yang tinggi pula biasanya hanya mempunyai anak sedikit. Sebaliknya, orang dengan tingkat kecerdasan dan status sosial-ekonomi rendah umumnya justru akan beranak banyak.
KESIMPULAN
Genetika disebut juga ilmu keturunan, berasal dari kata genos (bahasa latin), artinya suku bangsa-bangsa atau asal-usul. Secara “Etimologi”kata genetika berasal dari kata genos dalam bahasa latin, yang berarti asal mula kejadian. Genitika adalah ilmu yang mempelajari seluk beluk alih informasi hayati dari generasi kegenerasi. Oleh karena cara berlangsungnya alih informasi hayati tersebut mendasari adanya perbedaan dan persamaan sifat diantara individu organisme, maka dengan singkat dapat pula dikatakan bahwa genetika adalah ilmu tentang pewarisan sifat.
Karya Mendel tentang pola pewarisan sifat tersebut dipublikasikan pada tahun 1866 di Proceedings of the Brunn Society for Natural History. Namun, selama lebih dari 30 tahun tidak pernah ada peneliti lain yang memperhatikannya. Baru pada tahun 1900 tiga orang ahli botani secara terpisah, yaitu Hugo de Vries di belanda, Carl Correns di jerman dan Eric von Tschermak-Seysenegg di Austria, melihat bukti kebenaran prinsip-prinsip Mendel pada penelitian mereka masing-masing. Semenjak saat itu hingga lebih kurang pertengahan abad ke-20 berbagai percobaan persilangan atas dasar prinsip-prinsip Mendel sangat mendominasi penelitian di bidang genetika. Hal ini menandai berlangsungnya suatu era yang dinamakan genetika klasik.
Seiring berkembangnya jaman, ilmu genetika semakin mengalami perkembangan bahkan ilmu genetika sudah banyak diterapkan dalam kehidupan sehari-hari dalam berbagai bidang diantaranya pertanian, kesehatan, industri farmasi, hukum serta kemasyarakatan dan kemanusiaan.

KARYA TULISKU



BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Paru paru merupakan salah satu bagian penting pada saluran pernafasan pada makhluk hidup. Saluran pernapasan berfungsi sabagai saluran udara yang masuk menuju paru paru dan keluar dari paru paru. Paru paru sabagai tempat pertukaran udara pernafasan yaitu oksigen (O2) dan karbondioksida (CO2).
Paru paru dibungkus oleh selaput paru paru yang disebut pleura. Paru paru tersusun  atas berjuta juta alveolus yang memiliki fungsi penting dalam pertukaran gas pernafasan. Paru paru terletak dirongga dada tepat diatas diafragma.
Fungsi sistem pernafasan pada manusia dapat mengalami gangguan atau serangan penyakit, antara lain asma, TBC, macam macam peradangan, asfiksi, asidosis, difteri, pneumoconiosis dll. Dalam karya tulis ilmiah ini penulis akan membahas tentang Pneumoconiosis. (Heru Nurcahyo. 2008. 83 dan 93).
Pneumoconiosis adalah penyakit paru kronis karena menghirup partikel debu organik, khususya ditempat kerja industri dan merupakan  penyakit paru kerja untuk jangka waktu yang lama. Yang merupakan penyakit terkait kerja, yang terkait terutama untuk yang terkena zat berbahaya.
Menurut WHO  ukuran debu partikel yang membahayakan dan dapat menyebabkan penyakit Pneumoconiosis adalah berukuran 0,1- 5 atau 10 mikron. Menurut WHO penyakit pernapasan dari akut sampai dengan kronis telah menyeran 400-500 jiwa di negara berkembang. Menurut DEPKES ukuran debu yang membahayakan dan dapat menimbulkan penyakit Pneumoconiosis adalah berkisar 0,1 sampai 10 mikron. (http://eprints.undip.ac.id/18220/1/SITI YULAEKAH).
Menurut Kota Madya Pneumoconiosis adalah penyakit yang terparah karena sifatnya yang progresif, artinya bila pajanan dihentikan maka penyakit ini akan terus berlajut). Menurut data yang penulis dapatkan dari Rumah Sakit Bhayangkara Makassar pasien yang mengidap penyakit Pneumoconiosis pada tahun 2009 sebanyak 73 orang, persentasinya yaitu 72,1%. Sedangkan pada tahun 2010 sebanyak 53 orang, persentasinya yaitu 52,2%.
Selain untuk memenuhi persyaratan untuk mengikuti UN/UAS SMK Pratidina Makassar Tahun Ajaran 2011/2012, penulis berinisiatif mengambil judul ini karena menganggap Pneumoconiosis adalah salah satu hal yang perlu dikaji karena masalah ini sangat penting untuk dibahas dan diperkenalkan kepada masyarakat karena masyarakat masih banyak yang kurang mengetahui bahkan belum pernah mendengar penyakit Pneumoconiosis yang disebabkan oleh lingkungan sekitar
Dengan adanya pembuatan karya tulis ilmiah ini bertujuan untuk membuat kita berpikir kritis dan lebih memahami tentang Pneumoconiosis serta mendapatkan pengetahuan tentang sistem pernapasan pada manusia.

B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas penulis akan menguraikan beberapa batasan, yaitu sebagai berikut :
1.      Pengertian dari pneumoconiosis ?
2.      Penyebab dari pneumoconiosis ?
3.      Tanda dan gejala dari pneumoconiosis ?
4.      Pencegahan dari pneumoconiosis ?
5.      Pengobatan dari pneumoconiosis ?

C.    Tujuan Penulisan
Dengan adanya pembuatan karya tulis ilmiah ini bertujuan untuk membuat siswa siswi lebih memahami tentang pneumoconiosis. Pembuatan karya tulis ilmiah ini juga dapat digunakan sebagai penambah ilmu pengetahuan yang sangat berharga dalam memberikan asuhan keperawatan serta mengaplikasikan ilmu yang didapatkan selama pendidikan.
D.    Metode Penulisan
Dalam penulisan karya tulis tlmiah ini, penulis menggunakan metode yang dilakukan dengan cara mendapatkan penggambaran dari literatur buku sebagai sumber serta menggunakan browsing internet yang dilakukan dengan cara pengumpulan data, menganalisis serta menarik kesimpulan berdasarkan sumber yang sesuai yang berkaitan dengan masalah yang diangkat untuk melengkapi materi yang akan dilampirkan

E.     Sistematika Penulisan
Adapun sistematika penulisan dari Karya Tulis Ilmiah ini, yaitu sebagai berikut :
1.      BAB I PENDAHULUAN berisi : latar belakang, rumusan masalah, tujuan penulisan, metode penulisan, dan sistematika penulisan.
2.      BAB II TINJAUAN PUSTAKA berisi : pengertian, patofisiologi, etiologi, tanda dan gejala, manifestasi klinis, pemeriksaan diagnostik, pemeriksaan penunjang, pelaksanaan medic, pencegahan dan pengobatan.
3.      BAB III PEMBAHASAN berisi : pengkajian, diagnosa keperawatan, rencana keperawatan, dan catatan perkembangan.
4.      BAB IV PENUTUP berisi : kesimpulan dan saran
5.      DAFTAR PUSTAKA

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A.    Pengertian
Pneumoconiosis adalah penyakit paru-paru kronis yang disebabkan karena menghirup berbagai partikel debu, khususnya ditempat kerja industri, untuk jangka waktu yang lama. Oleh karena itu juga dikatakan penyakit paru kerja, yang merupakan bagian tertentu dari penyakit terkait kerja, yang terkait terutama untuk yang terkena zat berbahaya.
Pneumoconiosis adalah penyakit yang disebabkan oleh menghirup debu organik dan merupakan subset dari penyakit paru kerja, yang juga termasuk gangguan yang disebabkan oleh menghirup gas, uap dan bahan organik.
Pneumoconiosis adalah sekelompok penyakit yang disebabkan karena inhalasi debu anorganik dan organic tertentu. Beberapa jenis debu yang terinhalasi dalam kadar yang cukup banyak kedalam paru akan menimbulkan reaksi fibrosis, sedangkan debu lainnya tidak mempunyai pengaruh apa-apa. Pneumoconiosis yang paling umum adalah silikosis dan asbestosis. (http : //id.wikipedia.org/wiki/Pneumoconiosis)



B.     Patofisiologi
Sebagian besar pneumonia didapat melalui aspirasi partikel infektif. Partikel infeksius difiltrasi di hidung, atau terperangkap dan dibersihkan oleh mukus dan epitel bersilia di saluran napas. Bila suatu partikel (virus/bakteri) dapat mencapai paru-paru, partikel tersebut akan berhadapan dengan makrofag alveoler, dan juga dengan mekanisme imun sistemik, dan humoral.
Pada saat tubuh mengalami perubahan pertahanan anatomis dan fisiologis, maka partikel infeksius tersebut dapat mencapai paru, kemudian  menyebar dan menyebabkan pneumonia. Lebih dari 40 mineral dihirup menyebabkan lesi paru-paru dan kelainan x-ray. Sebagian besar, seperti timah, barium, dan besi, relatif berbahaya dan menumpuk di paru-paru dalam cara yang sama seperti batu bara, tetapi tidak menghasilkan atau fungsional kelainan morfologi.
Debu asbes masuk ke dalam tubuh melalui berbagai cara. Antara lain dengan mengisap debu ketika bernapas, menelannya bersama ludah dan dahak, atau mengonsumsi makanan serta minuman yang mengandung sejumlah kecil serat-serat tersebut. Sebagian serat yang tertelan diduga menembus dinding usus, tetapi migrasi selanjutnya dalam tubuh tidak diketahui. Setelah masa laten yang panjang, antara 20-40 tahun, serat tersebut bisa menimbulkan kanker paru. (http : //id.wikipedia.org/wiki/Pneumoconiosis)


C.    Etiologi
Pneumokoniosis bisa disebabkan oleh terhirupnya debu logam besi, perak/kaleng dan barium. Siderosis terjadi sebagai akibat dari terhirupnya oksida besi, baritosis terjadi karena menghirup barium dan stannosis terjadi karena terhisapnya unsur-unsur perak. Adapun jenis-jenis dari pneumoconiosis adalah :
1.      Silikosis
Silikosis adalah penyakit paru kronis yang disebabkan menghirup debu silica (partikel silicon dioksida). Pemajanan terhadap silikon dan silikat terjadi pada hamper semua kegiatan pertambangan, penggalian dan pengeboran. Pemotongan batu, pabrik pengamplas dan bahan tembikar serta pengecoran logam adalah pekerjaan lain dengan pemajanan bahaya.
a)      Patofisiologi
Jika partikel silica, yang mempunyai sifat fibrogenik, terhirup akan dibentuk lesi nodular di seluruh paru. Dengan berjalannya waktu dan pemajanan lebih lanjut, nodulus membesar dan bersatu. Masa padat terbentuk pada bagian atas paru-paru, mengakibatkan penurunan volume paru
b)     Manifestasi Klinis
Pasien dapat mengalami gajala-gejala indikatif hipoksemia, obstruksi jalan nafas yang berat, gagal jantung sebelah kanan. Edema dapat terjajdi karena gagal jantung.
c)      Penatalaksanaan Medis
Tidak terdapat pengobatan spesifik untuk silikosis. Terapi diarahkan pada penanganan komplikasi dan pencegahan infeksi. Pemeriksaan dilakukan untuk menyingkirkan tuberculosis. Jika terdapat tuberculosis, diatasi secara agresif. Terapi tambahan dapat mencakup oksigen dan terapi bronkodilator (teofilin dan ipratropium bromida).
2.      Asbestosis
Adalah penyakit yang ditandai oleh fibrosis paru difus akibat inhalasi debu asbestos.
a)      Patofisiologi
      Serat asbestos, jika terhirup memasuki alveoli yang pada akhirnya terobliterasi oleh jaringan fibrosis yang mengelilingi partikel asbestos. Perubahan fibrosis juga mempengaruhi pleura yang menebal dan menjadi plak. Akibat dari perubahan fisiologis ini adalah penyakit restriktif dengan penurunan dalam volume paru, menghilangkan pertukaran oksigen dan kaarbondioksida serta hipoksemia.
b)     Manifestasi klinis
     Pasien mengalami dispnea yang menjadi buruk serta progresif, nyeri dada ringan sampai sedang, anoreksi dan penurunan berat badan. Kor pulmonal dan gagal nafas terjadi sejalan dengan kemajuan penyakit.
c)      Penatalaksanaan Medis
Tidak terdapat pengobatan efektif untuk asbestosis. Penatalaksanaan diarahkan pada pengendalian infeksi dan mengobati penyakit paru. Bila pertukaran oksigen-karbon dioksida menjadi sangat terganggu, terapi oksigen kontinu dapat membantu memperbaiki toleransi aktivitas.
    (http : //id.wikipedia.org/wiki/Pneumoconiosis)

D.    Tanda dan Gejala
Dalam bentuk yang lebih ringan, pneumokoniosis mungkin tidak memiliki gejala apapun. Namun, ketika gejala itu berkembang, mereka mungkin:
1.      Sesak napas, terutama pada saat tenaga dipakai
2.      Batuk kronis yang mungkin atau mungkin tidak disertai dengan lendir. Jika ada fibrosis parah dari paru-paru, dapat menjadi sangat sulit untuk bernafas, dan ketika ini terjadi, mungkin menyebabkan kaku dan bibir mendapatkan semburat kebiruan. Dalam bentuk lanjutan dari pneumokoniosis, ada mungkin juga pembengkakan pada kaki akibat regangan berlebihan pada jantung.
(http : //id.wikipedia.org/wiki/Pneumoconiosis)


E.     Manifestasi Klinik
Pada pasien yang menderita pneumoconiosis dapat terjadi, sebagai berikut :
1.    Pasien mengalami dispnea menjadi buruk serta progresif
2.    Pneumoconiosis umumnya batuk nonproduktif kecuali apabila terjadi bronchitis kronis
3.    Restriksi hebat volume inspirasi serta nadi cepat dan bersambung
4.    Dapat terjadi sianosis akibat penurunan ventilasi disertai penurunan kecepatan difusi. (http : //id.wikipedia.org/wiki/Pneumoconiosis)

F.     Pemeriksaan Diagnostik
Pemeriksaan diagnostic pada penyakit pneumoconiosis meliputi :
1.      Gas Darah Arteri (GDA) menunjukkan oksigenasi darah normal (PaO2) rendah dan eliminasi karbon dioksida (PaCO2) tinggi
2.      Sinar X dada menunjukkan peningkatan kapasitas paru dan volume cadangan
3.      Klutur sputum positif (+) bila ada infeksi. Sputum biasanya berbau busuk bila abses pecah ke rongga pleura
4.      Tes fungsi paru : volume mungkin menurun, tekanan saluran udara meningkat dan kapasitas pemenuhan udara menurun.
5.      Tes serologi : membantu dalam membedakan diagnosis pada organisme secara spesifik.
6.      Chest X-ray : teridentifikasi adanya penyebaran. (Somantri, Irman. 2008:70)

G.    Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan penunjang yang penting untuk meningkatkan diagnosis dan menilai kerusakan yang diakibatkan oleh penyakit pneumoconiosis adalah :
1.      Pemeriksaan Radiologis
Pemeriksaan foto thorax sangat berguna untuk melihatkelainan  yang  ditimbulkan  oleh debu  pada Pneumokoniosis.Klasifikasi Standar menurut ILO dipakai untuk menilai kelainan yang timbul.  Pembacaan foto Thorax pneumokoniosis perlu dibandingkan, dengan foto standar untuk menentukan klasifikasi kelainan. Kualitas foto harus baik atau dapat diterima untuk dapat menginterpretasikan kelainan paru lewat foto Rontgen.
2.      Pemeriksaan faal paru dengan spirometri
Pemeriksaan faal paru yang sederhana, cukup sensitive dan reprodusibel serta digunakan secara luas adalah Pemeriksaan Kapasitas Vital Paru dan Volume Ekspirasi Paksa pada detik pertama. Selain berguna untuk menunjang diagnosis juga perlu untuk melihat laju penyakit, efektivitas pengobatan dan menilai prognosis. Pemeriksaan sebelum seseorang bekerja dan pemeriksaan berkala setelah bekerja dapat mengidentifikasi penyakit dan perkembangannya, pada pekerja yang sebelumnya tidak memiliki gejala.
3.      Pemeriksaan penunjang lain yang bisa digunakan untuk keperluan penegakan diagnosis adalah CT Scan , Broncho Alveolar Lavage   ( BAL ) dan Biopsi paru. (http : //id.wikipedia.org/wiki/Pneumoconiosis)

H.    Pelaksanaan Medik
 Pelaksanaan medik dari penyakit pneumoconiosis, yaitu sebagai berikut :
1.      Pengobatan ditujukan untuk mengurangi permasalahan lebih lanjut dan factor aktif lain, seperti merokok
2.      Pencegahan dan pengobatan untuk komplikasi misalnya pneumonia dengan antibiotic juga perlu dilakukan
3.      Penekanan debu dengan pengendalian teknis, dimana pekerja harus memakai masker, tutup kepala bertekanan
4.      Pemberian oksigen jika terjadi komplikasi lebih lanjut
5.      Bila terjadi gagal napas, berikan nutrisi dengan kalori yang cukup
(http : //id.wikipedia.org/wiki/Pneumoconiosis)
6.      Terapi umum yang dilakukan yaitu :
a)      Istirahat : tidak selalu perlu dirawat inap
b)      Diet : cairan harus cukup
7.      Obat pertama yang digunakan yaitu Kartimoksazol + asam folat → obat pilihan 14 – 21 hari
8.      Obat alternatif yang digunakan yaitu :
a)      Pentamidin parenteral
b)      Klidamisin parenteral + primakuin
c)      Trimtreksat + leukovorin. (Mubin A. Halim:225 dan 227)

I.       Pencegahan
Pneumokoniosis dapat dicegah dengan menghindari debu pada lingkungan kerja. Pekerja harus menjalani pemeriksaan foto dada tiap 4-5 tahun sehingga penyakit ini dapat ditemukan pada stadium awal. Jika ditemukan penyakit, maka pekerja tersebut harus dipindahkan ke daerah dimana kadar debunya rendah, untuk menghindari terjadinya fibrosis masif progresif. (http : //id.wikipedia.org/wiki/Pneumoconiosis) 
J.      Pengobatan
Tidak ada pengobatan khusus untuk penyakit ini, selain untuk mengobati komplikasinya (gagal jantung kanan atau tuberkulosis paru). Jika terjadi gangguan pernapasan, maka diberikan bronkodilator dan ekspektoran. (http: //id.wikipedia.org/wiki/Pneumoconiosis)

BAB III
PEMBAHASAN
A.    Pengkajian
Pengkajian yang harus dilakukan pada klien yang menderita penyakit pneumoconiosis adalah :
1.      Riwayat atau adanya faktor-faktor penunjang, seperti :
a)      Merokok produk tembakau sebagai faktor penyebab utama
b)      Tinggal atau bekerja didaerah dengan polusi udara berat
c)      Riwayat alergi pada keluarga
2.      Riwayat atau adanya factor-faktor pencetus, seperti :
a)      Allergen (serbuk, debu, kulit, dan jamur)
b)      Stress emosional
c)      Aktivitas fisik yang berlebihan
d)     Polusi udara
e)      Infeksi saluran nafas
f)       Kegagalan program pengobatan yang dianjurkan
3.      Pemeriksaan fisik berdasarkan focus pada system pernafasan yang meliputi :
a)      Kaji frekuensi dan irama pernafasan
b)      Infeksi warna kulit dan warna membrane mukosa
c)      Auskultasi bunyi nafas
d)     Pastikan bila pasien menggunakan otot-otot aksesori bila bernafas :
1)      Mengangkat bahu pada saat bernafas
2)      Retraksi otot-otot abdomen pada saat bernafas
3)      Pernafasan kuping hidung
e)      Kaji bila ekspansi dada simetris atau asimetris
f)       Kaji bila nyeri dada pada pernafasan
g)      Kaji batuk (apakah produktif atau nonproduktif). Bila produktif tentukan warna sputum
h)      Tentukan bila pasien mengalami dispneu atau orthopneu
i)        Kaji tingkat kesadaran
4.      Kaji persepsi diri pasien
5.      Kaji berat badan dan masukan rata-rata cairan.
 (http : //id.wikipedia.org/wiki/Pneumoconiosis)

B.     Diagnosa Keperawatan
Adapun diagnosa keperawatan dari penyakit pneumoconiosis, yaitu sebagai berikut :
1.      Tak efektif bersihan jalan nafas berhubungan dengan peningkatan secret atau sekresi kental
2.      Ansietas berhubungan dengan sulit bernafas dan ketakutan akan sufokasi
3.      Gangguan pola tidur yang berhubungan dengan batuk, ketidakmampuan melakukan posisi terlentang, ransang lingkungan
4.      Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan hilangnya nafsu makan dan mual muntah
5.      Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan obstruksi jalan nafas
6.      Risiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan proses penyakit kronis
7.      Nyeri berhubungan dengan inflamasi parenkim paru
8.      Kurang pengetahuan mengenai kondisi dan kebutuhan tindakan berhubungan dengan kesalahan interprestasi
9.      Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen
10.   Risiko tinggi terhadap kekurangan volume cairan  berhubungan dengan demam, berkeringat, dan muntah.
(http : //id.wikipedia.org/wiki/Pneumoconiosis)

C.    Intervensi  Keperawatan
1.      Bersihkan jalan napas tidak efektif
a)      Intervensi pada penyakit pneumoconiosis adalah :
1)      Mengkaji jumlah kedalaman pernapasan dan pergerakan dada
2)      Evaluasi kepala sering ubah posisi
3)      Membantu pasien melakukan latihan napas dalam
4)      Memberikan cairan 2500ml/hari dan air hangat
b)      Rasional pada penyakit Pneumoconiosis adalah :
1)      Melakukan evaluasi awal untuk melihat kemajuan dari hasil intervensi yang telah dilakukan
2)      Diafragma yang lebih rendah akan membantu dalam meningkatkan ekspansi dada, pengisian udara, mobilisasi dan pengeluaran sekret
3)      Napas dalam akan menfasilitasi pengembangan maksimum paru-paru
4)      Cairan akan membantu memobilisasi dan mengeluarkan sekret
c)      Tujuan dari intervensi yang dilakukan adalah :
1)      Secara verbal tidak ada keluhan sesak
2)      Suara napas normal
3)      Jumlah pernapasan dalam batas normal sesuai usia
2.      Kerusakan pertukaran gas
a)      Intervensi pada penyakit Pneumoconiosis adalah :
1)      Mengobservasi warna kulit , membran mukosa, dan kuku serta mencatat adanya sianosis perifer ( kuku )
2)      Memonitor denyut jantung
3)      Memonitor suhu tubuh bila ada indikasi
b)      Rasional pada penyakit Pneumoconiosis adalah :
1)      Sianosis kuku menggambarkan vasokonstriksi atau respon tubuh terhadap demam
2)      Takikardia biasanya timbul sebagai hasil dari demam.
3)      Demam tinggi akan meningkatkan kebutuhan metabolisme dan konsumsi oksigen
c)      Tujuan dari intervensi yang dilakukan adalah :
1)      Keluhan dispnea berkurang
2)      Denyut nadi dalam rentang normal
3)      Kesadaran penuh. (Doenges dan Moorhouse. 2000:71 dan 73)

D.    Evaluasi
Catatan perkembangan pada penyakit pneumoconiosis adalah :
1.      Meningkatkan pemahaman situasi yang ada dan penting dengan program pengobatan
2.      Meminimalkan kelelahan dan membantu keseimbangan suplai dan kebutuhan oksigen
3.      Kelemahan dan depresi dapat mempengaruhi kemampuan untuk mengasimilasi informasi atau mengikuti program medic
4.      Setelah pulang, pasien berisiko besar untuk kambuh
5.      Upaya evaluasi dan intervensi tepat waktu dapat mencegah dan meminimalkan komplikasi
6.      Menjaga dan mengembalikan fungsi respirasi
7.      Mendukung proses penyembuhan
(http : //id.wikipedia.org/wiki/Pneumoconiosis dan Somanti, Irman. 2008:70)














BAB IV
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Ada beberapa kesimpulan yang dapat diambil dari karya tulis ilmiah ini antara lain, sebagai berikut :
1.      Pneumoconiosis adalah penyakit paru-paru kronis yang disebabkan karena menghirup berbagai partikel debu, khususnya ditempat kerja industry, untuk jangka waktu yang lama.
2.      Pneumonia didapat melalui aspirasi partikel infektif. Partikel infeksius difiltrasi di hidung, atau terperangkap dan dibersihkan oleh mukus dan epitel bersilia di saluran napas.
3.      Pneumoconiosis bisa disebabkan oleh terhirupnya debu logam besi, perak/kaleng dan barium.
4.      Jenis-jenis dari pneumoconiosis adalah silikosis dan asbestosis.
5.      pneumoconiosis mungkin tidak memiliki gejala apapun. Namun, ketika gejala itu berkembang, mereka mungkin sesak napas, terutama pada saat tenaga dipakai dan batuk kronis yang mungkin atau mungkin tidak disertai dengan lendir.
6.      Pada pasien yang menderita pneumoconiosis dapat terjadi, dispnea menjadi buruk serta progresif, restriksi hebat volume inspirasi serta nadi cepat dan bersambung, dan dapat terjadi sianosis.
7.      Pada penyakit pneumoconiosis pemeriksaan diagnnostiknya dapat meliputi pemeriksaan Gas Darah Arteri, Sinar X dada, Klutur Sputum, Tes Fungsi Paru, Esei Imunoglobin, Tes Hemoglobin dan EKG.
8.      Pemeriksaan penunjang yang penting untuk meningkatkan diagnosis meliputi pemeriksaan radiologis dan pemeriksaan faal paru dengan spirometri.
9.      Pneumoconiosis dapat dicegah dengan menghindari debu pada lingkungan kerja.  
10.   Jika terjadi gangguan pernapasan, maka diberikan bronkodilator dan ekspektoran.

B.     Saran
Saran yang dapat penulis sampaikan pada karya tulis ilmiah ini adalah :
1.      Agar masyarakat senang tiasa menjaga, memperhatikan serta memelihara kesehatan.
2.      Menjaga dan memperbaiki pola hidup agar terhindar dari segala macam penyakit, termasuki terhindar dari penyakit pneumoconiosis.
3.      Memperhatikan kebersihan perseorangan dan kebersihan lingkungan.
4.      Pada pasien yang menderita penyakit pneumoconiosis sebaiknya melakukan pengobatan sampai benar-benar sembuh.
DAFTAR PUSTAKA

http: //id.wikipedia.org/ wiki/ Pneumoconiosis

http://eprints.undip.ac.id/18220/1/SITI YULAEKAH
http://wwwdagul88.blogspot.com
Mubin A.Halim. Ilmu penyakit dalam. Buku kedokteran EGC.
Nettina M. Sandra. 2001. Pedoman praktik keperawatan. Buku kedokteran EGC.
somantri, Irman. 2008. Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Gangguan Sistem Pernapasan. Jakarta : Salemba Medika